Esay pendidikan bahasa Indonesia

Nama : Lutfi Adrikni
Nim : 208620600171
Prodi : PGSD
Semester : 3

Esay
Tema : Pendidikan Bahasa Indonesia
Judul : Mempelajari dan memahami bahasa Indonesia di sekolah


Mempelajari dan memahami bahasa Indonesia di sekolah

Kenapa adanya pendidikan bahasa Indonesia?
Bahasa merupakan sarana pemersatu sebuah negara dan bahasa pemersatu kita adalah bahasa Indonesia. Tanpa adanya pendidikan bahasa Indonesia semuanya akan kesulitan dalam berkomunikasi. Mengingat kembali bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan memerlukan pengetahuan tentang pendidikan bahasa Indonesia.
Dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar akan mencerminkan kepribadian seseorang. 
Karena seseorang yang terjadi kemampuan berbahasa yang baik dan benar akan bisa membedakan dan kapan saja dalam penggunaan bahasa formal dan informal. Terkait dengan kondisi saat ini dan seiring dengan perkembangan zaman, para generasi muda sudah mulai jarang sekali menggunakan akan mempelajari bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa.
Pentingnya dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan PUEBI adalah untuk mempermudah penyampaian sebuah informasi dengan jelas.

Bahasa yang paling sering kita gunakan?
Bahasa daerah, bahasa internasional, bahasa nasional?
Karena kita tidak terlalu memperhatikan bahasa yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa disadari kita kesehariannya menggunakan bahasa sesuai dengan selera masing-masing. 
Maka dari itu diharapkannya peserta didik mampu untuk mempelajari, memahami dan menguasai mata pelajaran ini, dan dapat mengimplementasikan keterampilan dalam berbahasa, seperti membaca, menulis, menyimak dan berbahasa. 

Tetapi anehnya, dalam penggunaan berbahasa Indonesia para siswa yang telah lulus sekolah saja masih jauh dari apa yang dicita-citakan sebelumnya. Yaitu untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar. Hal ini masih terlihat pada saat mereka mulai pendidikan di perguruan tinggi masih banyak kesalahan-kesalahan dalam berbahasa Indonesia baik itu secara lisan maupun tulisan, seolah-olah fungsi dari pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tidak terlihat maksimal.

Hal ini tidak tidak wajar dengan mengingat sebagai mahasiswa yang notabenenya sudah mengenyam pendidikan sejak SD hingga SMA, masih salah dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Lalu, apakah ada kesalahan dengan pola pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah? Selama ini pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah cenderung dengan banyaknya materi, bahkan setiap dari materipun terus dikaji berdasarkan isi pembahasannya.
Pada umumnya para siswa menempatkan mata pelajaran bahasa Indonesia pada urutan yang jauh dalam pilihan para siswa. Jarang siswa yang menempatkan pelajaran ini sebagai favorit. Hal ini semakin terlihat dengan rendahnya minat siswa untuk mempelajarinya dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Hal ini disebabkan karena pengajarannya yang bersifat formal akademis, dan bukan untuk melatih kebiasaan berbahasa para siswa itu sendiri.

Pelajaran Bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah sejak kelas 1 SD, mereka memulainya dari nol. Pada masa tersebut materi pelajaran Bahasa Indonesia hanya mencakup membaca, menulis serta membuat karangan singkat. Baik berupa karangan bebas hingga mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai ke tingkat-tingkat selanjutnya pola yang digunakan juga praktis tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengajaran Bahasa Indonesia yang monoton telah membuat para siswanya mulai merasakan gejala kejenuhan akan belajar Bahasa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya buku paket yang menjadi buku wajib.

Sementara isi dari materinya terlalu luas dan juga cenderung bersifat hafalan yang membosankan. Inilah yang kemudian akan memupuk sifat menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia karena materi yang diajarkan hanya itu-itu saja. Bila diberikan bobot yang besar pada penguasaan praktek membaca, menulis, dan apresiasi sastra dapat membuat para siswa mempunyai kemampuan menulis jauh lebih baik hal ini sangat berguna sekali dalam melatih memanfaatkan kesempatan dan kebebasan mereka untuk mengungkapkan apa saja secara tertulis, tanpa beban dan tanpa perasaan takut salah.

Setelah melihat pada ilustrasi dari pola pengajaran tersebut saya melihat adanya kelemahan – kelemahan dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah. KBM belum sepenuhnya menekankan pada kemampuan berbahasa, namun lebih pada penguasaan materi. Hal ini terlihat dari porsi materi yang tercantum dalam buku paket lebih banyak diberikan dan diutamakan oleh para guru bahasa Indonesia. Padahal kemampuan berbahasa tidak didasarkan atas penguasaan materi bahasa saja, tetapi juga perlu latihan dalam praktek kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pandangan atau persepsi sebagian guru, keberhasilan siswa lebih banyak dilihat dari nilai yang diraih atas tes, ulangan umum bersama terlebih lagi pada Ujian Akhir Nasional. Nilai itu sering dijadikan sebagai keberhasilan pengajaran. Perolehan nilai yang baik sering menjadi obsesi guru karena hal itu dipandang dapat meningkatkan prestise sekolah dan guru.

Untuk itu, tidak mengherankan jika dalam KBM masih dijumpai guru memberikan latihan pembahasan soal dalam menghadapi ulangan. Apalagi ulangan pada pelajaran bahasa Indonesia selalu berpola pada pilihan ganda. Dimana bagi sebagian besar guru menjadi salah satu orientasi di dalam proses pembelajaran mereka. Akibatnya, materi yang diberikan kepada siswa sekedar membuat mereka dapat menjawab soal-soal tersebut, tetapi tidak punya kemampuan memahami dan mengimplementasikan materi tersebut untuk kepentingan praktis dan kemampuan berbahasa mereka. Pada akhirnya para siswa yang dikejar-kejar oleh target hanya berorientasi untuk lulus dari nilai minimal atau sekadar bisa menjawab soal pilihan ganda saja. Perlu diingat bahwa soal-soal ulangan tidak memasukan materi menulis atau mengarang (soal esai).

Peran guru Bahasa Indonesia juga tak lepas dari sorotan, mengingat guru merupakan tokoh sentral dalam pengajaran. Peranan penting guru juga dikemukakan oleh Harras (1994). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, dilaporkannya bahwa guru merupakan faktor determinan penyebab rendahnya mutu pendidikan di suatu sekolah. Guru Bahasa Indonesia juga harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang langsung berhubungan dengan aspek pembelajaran menulis, kosakata, berbicara, membaca, dan kebahasaan. Rupanya guru juga harus selalu melakukan refleksi agar tujuan bersama dalam berbahasa Indonesia dapat tercapai.

Selain itu, siswa dan guru memerlukan bahan bacaan yang mendukung pengembangan minat baca, menulis dan apreasi sastra. Untuk itu, diperlukan buku-buku bacaan dan majalah sastra yang berjalin dengan pengayaan bahan pengajaran Bahasa Indonesia. Kurangnya buku-buku pegangan bagi guru.

Menyadari peran penting pendidikan bahasa Indonesia, pemerintah seharusnya terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Apabila pola pendidikan terus stagnan dengan pola-pola lama, maka hasil dari pembelajaran bahasa Indonesia yang didapatkan oleh siswa juga tidak akan bepengaruh banyak. Sejalan dengan tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia supaya siswa memiliki kemahiran berbahasa diperlukan sebuah pola alternatif baru yang lebih dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Agar proses KBM di kelas yang identik dengan hal-hal yang membosankan dapat berubah menjadi suasana yang lebih semarak dan menjadi lebih hidup. Dengan lebih variatifnya metode dan teknik yang disajikan diharapkan minat siswa untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia meningkat dan memperlihatkan antusias yang tinggi. Selain itu guru hendaknya melakukan penilaian proses penilaian atas kinerja berbahasa siswa selama KBM berlangsung. 

Jadi tidak saja berorientasi pada nilai ujian tertulis. Perlu adanya kolaborasi baik antar guru Bahasa Indonesia maupun dengan guru bidang studi lainnya. Dengan demikian, tanggung jawab pembinaan kemahiran berbahasa tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia melainkan juga guru bidang lain. Apabila, sistem pembelajaran Bahasa Indonesia yang setengah-setengah akan terus begini, maka metamorfosis sang ulat hanyalah akan tetap menjadi kepompong. Awet dan tidak berkembang karena pengaruh formalin pola pengajaran yang masih berorientasi pada nilai semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara membuat kerajinan tangan dari kertas origami

RUANG LINGKUP EVALUASI PEMBELAJARAN